Cerita Selma (kisah kantung kulit)

Bagi anda yang sudah lama dengan saya tentunya masih ingat dengan cerita Selma.
Cerita yang menggambarkan keseriusan seseorang dalam menapaki tiap jengkal tanah dan mengamati sesuatu.
Cerita kali ini merupakan kisah Selma bersama kawan-kawannya di belantara Afrika dalam memburu gajah gurun pasir.
Selma masih muda namun dia adalah seorang pemburu yang hebat. Dia dapat mengikuti jejak seekor rusa dalam hamparan kerikil gurun yang kering, dengan kain cawatnya terikat pada kedua matanya, ia selalu membuat para gadis terkesan. Mengenakan kain dari kulit hewan yang sulit diburu dan ganas. Hebat dalam memanah juga. Pada malam hari tatkala semua sudah berbaring, ia masih terjaga denang nafas teratur penuh konsentrasi.
Tatkala ibunya berkata :” sedang apa kau malam-malam begini di sana?”, Selma akan menjawab:” Aku sendang melatih teknik memanahku!”
Selma memang rajin dan tekun, hebat dalam memanah, tapi banyak pemuda yang lebih tua yang memiliki banyak kelebihan lain dari Selma. Selma dianggap junior. Dia hanya berlatih memanah.
Selma memimpikan untuk memburu gajah gurun pasir, ia mempercayai bahwa hanya tatkala seorang pemuda telah melacak jejak dan membunuh gajah gurun pasir yang sangat besar itulah dia sungguh-sungguh akan menjadi laki-laki sejati.
Pada suatu hari tatkala para pemuda yang lebih tua datang kepada Selma dan berkata:” Kami akan pergi melacak jejak gajah gurun pasir. Kami akan pergi beberapa hari dan malam. Kami ingin kau ikut bersama kami. Ku dengar kau hebat dalam memanah dan melacak, dan lagi mungkin kau bisa membantu-bantu kami”.
Mendengar hal demikian membuat Selma girang. Ia pun meminta ijin kepada Ibunya. “Tidak!”, demikian kata Ibunya. Selma tak kehabisan akal, ia beralasan :” kalo begitu boleh dong, aku bermalam beberapa hari di gua keluarga temanku si Solom”.
Ibunya berkata:” Ya baiklah, asalkan kau tak pulang esok hari dengan menyeret gajah gurun di belakang mu, jika itu kau lakukan maka kau akan mendapat masalah besar, anakku.”
Namun tentu saja Selma bergabung dengan pemuda lainnya yang lebih tua darinya untuk memburu gajah gurun. Mereka pun menyiapkan segala sesuatunya. Air di tempat kantung kulit, makanan di dalam tempat yang terbuat dari gading gajah, senjata dan selimut dari kulit hewan untuk mereka bawa.
Namun karena Selma pergi dengan tergesa-gesa ia hanya membawa sekantong dari kulit berisi air dan senjata panah.
Mereka pun melakukan perjalanan.

Selma                                      gajah gurun afrika impian buruan Selma

Dalam perjalanan mereka menanam sebagian gading gajah dan kantung kulit, berisi makanan, air di dalam tanah yang diberi tanda. Ini cara orang-orang Afrika menyiapkan persediaan makan dan minum mereka yang dapat mereka ambil kembali tatkala kehabisan sewaktu berburu.
Anak-anak laki-laki pergi dalam jangka waktu lama, mereka melewati bukit, sedikit sungai, tepi pantai, dan gurun belantara Afrika. Setelah sekian lama mereka pergi, salah seorang dari mereka yang lebih tua pun berkata, sudah saatnya untuk pulang.
Pada suatu hari, dalam perjalanan pulang. Mereka melihat jejak kaki gajah gurun yang sudah samar. Mereka pun mengikutinya. Mereka terus berjalan mengikuti jejak-jejak tersebut. Beberapa hari kemudian, salah seorang yang lebih tua berkata pada Selma sambil menepuk pundaknya:” Kau yakin kita mengikuti arah yang benar?”
“Apa maksudmu?,” kata Selma sedikit membela diri.
“Maksudku, apakah kau tau bagian mana yang depan dari kaki gajah gurun dan bagian mana yang belakangnya,” Kata anak laki-laki yang lebih tua tadi pada Selma.
Maka di antara mereka pun saling pandang, dan mereka pun melihat ke Selma. Selma pun menatap jejak-jejak itu. “Ehemmm…,” katanya pelan, namun kemudian berhenti, karena ia memang tidak tahu apa lagi yang mesti diucapkan.
“Apakah kau pernah mendengar sebelumnya tentang jejak gajah gurun?” kata seorang anak yang lebih tua pada Selma, dengan curiga.
Selma yang tadinya berasumsi, bahwa anak laki-laki lain lah yang menuntun mereka ke jejak-jejak itu. Pelan-pelan melihat ke bawah lagi dan berkata,” Ehemmm…,”
Lalu terjadilah pemandangan yang buruk. Pandangan yang tidak bagus dari teman-temannya ke arah Selma. Pandangan itu seolah menyalahkan Selma. Hal yang buruk bagi Selma. Hujatan makian, yang melibatkan pukulan dan tendangan mengarah pada Selma. “Kita masih dapat menemukan lagi jejak-jejak gajah gurun ke arah yang lain,” kata seorang dari mereka dengan terengah-engah…

bersambung…..

bagaimanakah nasib Selma setelah mendapatkan hal yang buruk dari teman-temannya ini…?

nantikan kisah lanjutannya….

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: